“Perempuan yang Tidak Menikah Adalah Kegagalan?”: Mengkaji Glorifikasi Pernikahan dalam Masyarakat


Dunia sudah memasuki abad ke-21. Ketika manusia sedang sibuk menciptakan dan bahkan bersaing dengan kecerdasan buatan. Namun di belahan bumi yang lain, masih ada saja suara-suara yang dengan lantang mengulang argumen ketinggalan zaman seperti ini:

“Perempuan yang sampai usia sekian belum nikah itu nggak laku. Biasanya karena NPD atau BPD. Yang punya kepribadian gitu emang susah nikah.”


Alih-alih mengumpat dan mencaci maki, saya memilih meluapkan kekesalan dalam bentuk tulisan panjang ini.

Menikah bukan, dan tidak akan pernah menjadi sebuah pencapaian yang patut untuk dikejar atau dibanggakan. Saya, kamu, rekan kerja, teman sekolah, tetangga, siapa pun bisa menikah.

Pikirkan tentang perjodohan, dua orang yang tidak saling kenal bisa dinikahkan, dengan atau tanpa paksaan.

Pasangan yang baru bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama bisa memutuskan untuk menikah dalam waktu singkat. Ya mungkin perlu perispan beberapa hari atau ebberapa bulan untuk proses pernikahannya, tapi keputusannya bisa dibuat dalam hitungan detik.

Ada juga pasangan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk akhirnya sepakat. Intinya, siapa pun bisa menikah, jika memang memilih untuk menikah.

Lain halnya dengan pencapaian seperti meraih predikat cum laude, memenangkan kejuaraan, membangun bisnis di usia muda, atau mencapai stabilitas finansial. Hal-hal tersebut membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan usaha yang tidak sedikit, serta tidak semua orang bisa mencapainya.

Pernikahan bukanlah pencapaian, melainkan pilihan.

Namun yang sering luput dari cara pandang sosial kita adalah: mengapa sesuatu yang begitu kompleks seperti pernikahan justru diperlakukan seolah-olah ia adalah “tanda selesai”? Mengapa ia diglorifikasi sebagai kemenangan, seakan-akan setelah itu hidup otomatis menjadi lebih baik, lebih utuh, atau lebih “berhasil”?

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, pernikahan justru merupakan titik awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Ia bukan garis akhir, melainkan gerbang menuju fase hidup yang menuntut kesiapan emosional, finansial, mental, bahkan sosial yang tidak sederhana.

Menyatukan dua individu dengan latar belakang, kebiasaan, nilai, dan luka yang berbeda bukanlah perkara ringan. Ia membutuhkan kerja yang terus-menerus. Bukan hanya cinta, tetapi juga kedewasaan, komunikasi, dan komitmen yang diuji setiap hari.

Dalam konteks ini, mengglorifikasi pernikahan tanpa membicarakan bobot tanggung jawabnya adalah bentuk penyederhanaan yang keliru.

Lebih jauh lagi, anggapan bahwa tidak menikah adalah kegagalan menjadi semakin tidak relevan jika kita melihat realitas hari ini. Banyak perempuan yang tumbuh menjadi individu yang mandiri secara finansial, emosional, maupun intelektual. Mereka mampu membangun hidupnya sendiri, membuat keputusan strategis, dan menciptakan stabilitas tanpa harus bergantung pada institusi pernikahan.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa tidak semua laki-laki berada dalam posisi yang mampu mengimbangi kapasitas tersebut, baik dari segi kesiapan finansial, kedewasaan emosional, maupun tanggung jawab jangka panjang.

Ini bukan tentang merendahkan, melainkan tentang mengakui bahwa dinamika telah berubah. Relasi hari ini menuntut kesetaraan, bukan sekadar peran tradisional yang diterima begitu saja.

Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk tidak menikah atau menunda pernikahan justru bisa menjadi bentuk rasionalitas, bukan kegagalan. Ia bisa menjadi hasil dari pertimbangan matang: tentang kualitas hidup, tentang standar relasi yang sehat, tentang keinginan untuk tidak berkompromi pada hal-hal mendasar.

Karena pada akhirnya, yang layak dipertanyakan bukanlah mengapa seseorang belum menikah, tetapi mengapa kita begitu cepat menganggapnya sebagai masalah.

Mungkin sudah saatnya kita menggeser cara pandang, dari melihat pernikahan sebagai simbol keberhasilan, menjadi melihatnya sebagai salah satu dari sekian banyak pilihan hidup yang sah. Tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah.

Sebab hidup tidak diukur dari status pernikahan, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu hidup dengan utuh, sadar, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Posting Komentar

Bijaklah dalam berkomentar. Gunakan kata-kata yang sopan karena kita adalah bangsa yang beradab.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak